Yang agak istimewa dari penampilan Atun
adalah matanya yang bagus dengan lirikan-lirikan yang kelihatannya
sedikit nakal. Hari pertama kedatangannya , saat memperkenalkan diri ,
ia tampak tidak banyak bicara, hanya saya melihat bahwa matanya sering
melirik dan memperhatikan celana saya terutama pada bagian kemaluan.
Saya berpikir, ” akh, nakal juga nih… “. Ternyata Atun ini baru menikah
dua bulan lalu dan karena desakan kebutuhan ekonomi saat ini sedang
terpisah dari sang suami yang bekerja menjadi TKI di Timur Tengah.
Setelah beberapa hari bekerja pada kami,
ternyata Atun cukup rajin dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan
cepat. Memasuki minggu kedua, saya mendapat gilirin kerja shift dari
kantor, yaitu shift ke 2, sehingga saya harus mulai bekerja mulai dari
jam 15:00 sampai dengan jam 23:00.
Jadi bila pulang telah larut malam,
biasanya isteri saya sudah tidur dan bila ia tidur, ia mempunyai
kebiasaan tidur yang sangat lelap dan sangat susah sekali untuk
dibangunkan ; dan bila saya terbangun pada pagi hari, isteri sudah
berangkat kerja, sehingga biasanya kami hanya berhubungan melalui
telephone saja atau ia menuliskan pesan dan menempelkannya di kulkas.
Suatu malam sepulang kerja, Atun seperti
biasa membuka pintu dan setelah itu ia biasanya menyiapkan air panas
untuk saya mandi. Sedang saya asyik mandi dan menggosok-gosok tubuh
saya, saya mendengar suatu bunyi halus dibalik pintu kamar mandi, sambil
berpura-pura tidak tahu saya tiba-tiba menunduk dan mencoba melihat
dari celah yang ada dibawah pintu tersebut.
” hah….” , saya kaget juga, karena
disitu terlihat sepasang kaki yang dalam posisi sedang men-jinjit
menempel dipintu kamar mandi. Wah, ternyata saya sedang diintip , oleh
siapa lagi kalau bukan Atun. Saya tetap pura-pura tidak tahu saja dan
mulai memasang aksi ; saya mulai menggosok-gosokan sabun kebagian ******
saya, meremas-remas sehingga ****** saya pun mulai bangun dan menjadi
keras, sambil terus meng-kocok-kocok ****** saya, saya juga berusaha
untuk berkonsentrasi mendengar suara dibelakang pintu itu. Dari situ
terdengar desahan halus yang sedikit lebih keras dari tarikan nafas.
“Naah…lo….rasain ” , kata saya dalam
hati. Selesai mandi, saya langsung saja keluar dengan memakai handuk
yang dililitkan kebadan bagian bawah saya, ****** saya masih dalam
posisi menegang keras, jadi terlihat menonjol dari balik handuk. Saya
tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa dan berjalan kearah belakang untuk
menaruh pakaian kotor.
“pep…..pak….. bapak mau emm.. makan”, sapa Atun ,
“oh… enggak Tun, sudah makan… tolong bikinkan kopi saja”, jawab saya sambil saya perhatikan wajahnya. Ternyata wajah Atun terlihat pucat dengan tangan yang agak gemetaran.
“oh… enggak Tun, sudah makan… tolong bikinkan kopi saja”, jawab saya sambil saya perhatikan wajahnya. Ternyata wajah Atun terlihat pucat dengan tangan yang agak gemetaran.
“eeh…kamu kenapa Tun,…..sakit yaa ?”, tanya saya
“ah , tidak pak….. saya cuma sedikit pusing aja”, jawab Atun
“Iyaa…Tun….saya juga sedikit pusing… apa kamu bisa mijitin kepala saya”
“ah , tidak pak….. saya cuma sedikit pusing aja”, jawab Atun
“Iyaa…Tun….saya juga sedikit pusing… apa kamu bisa mijitin kepala saya”
“beb…bis…bisa pak”, jawab Atun tergagap,
sembari matanya terus menerus melirik kearah ****** saya yang
menyembul. Sayapun masuk kekamar dan mengganti handuk dengan sarung
tanpa memakai celana dalam lagi, dan tidak lupa memeriksa isteri saya;
setelah saya perhatikan ternyata isteri saya tetap tertidur dengan pulas
sekali. Sayapun duduk disofa didepan televisi sambil menunggu Atun
membawa kopi, yang kemudian ditaruhnya dimeja didepan saya.
“Tun….tolong nyalakan tv-nya”
“Tun….tolong nyalakan tv-nya”
Atun berjalan kearah televisi untuk
menyalakan , saat televisi telah menyala saya bisa melihat bayangan
tubuh Atun dari balik dasternya. “wah….boleh juga”, terasa denyutan di
****** saya, nafsu saya mulai memuncak.
“Tun…. tolong kecilkan sedikit
suaranya”, kata saya, Saat ia mengecilkan suara televisi itu, Atun
sedikit membungkuk untuk menjangkau tombol tv tersebut, langsung
tubuhnya terbayang dengan jelas sekali , Atun ternyata tidak memakai BH
dan puting teteknya terbayang menonjol bagaikan tombol yang minta
diputar.
“lagi sedikit Tun….” kata saya mencari
alasan untuk dapat melihat lebih jelas. Aduh , denyutan di ****** saya
pun makin keras saja.
“Ayo ..Tun..pijitin kepala saya” kata saya sambil bersandar pada sofa. Dengan agak ragu, Atun mulai memegang kepala saya dan mulai memijat-mijat kepala saya dengan lembut.
“nah..gitu….baru enak, kata saya lagi, “tapi film-nya kok jelek banget yaa…”
“iya..pak…film-nya film tua..” katanya.
“Ayo ..Tun..pijitin kepala saya” kata saya sambil bersandar pada sofa. Dengan agak ragu, Atun mulai memegang kepala saya dan mulai memijat-mijat kepala saya dengan lembut.
“nah..gitu….baru enak, kata saya lagi, “tapi film-nya kok jelek banget yaa…”
“iya..pak…film-nya film tua..” katanya.
“kamu mau lihat film baru”, kata saya
sambil langsung berdiri dan menuju kearah lemari televisi untuk
mengambil sebuah laser disk dan langsung saja memasangnya, film itu
dibintangi oleh Kay Parker, sebuah film jenis hardcore yang sungguh hot.
Atun kembali memijat kepala saya sambil menanti adegan film tersebut.
Saat adegan pertama dimana Kay Parker
mulai melakukan french kiss dan meraba ****** lawan mainnya , tangan
Atun mengejang dikepala saya, terdengar ia menarik nafas panjang dan
pijatan tangannya bertambah keras. Saya mengangkat kepala dan melihat
keatas kearah Atun; terlihat matanya terpaku pada adegan di layar, biji
matanya kelihatan seperti tertutup kabut tipis, ia benar-benar
berkonsentrasi melihat adegan demi adegan yang diperankan oleh Kay
Parker.
Sekitar seperempat jam kemudian, terasa
pijatan dikepala saya berkurang, karena hanya satu tangannya saja yang
dipakai untuk memijat sedangkan setelah saya tengok kebelakang ternyata
tangannya yang satu lagi terjepit diantara selangkangannya dengan
gerakan menggosok-gosok. Desahan nafasnya menjadi keras buru memburu.
Atun terlihat bagai orang sedang mengalami trance dan tidak sadar akan
perbuatannya.
Saya langsung saja berdiri dan menuju
kebelakangnya; sarung saya jatuhkan kelantai dan dalam keadaan telanjang
saya tekan ****** saya ke arah belahan pantatnya sedangkan mulut saya
mulai menjalar ke leher Atun, menjilat-jilat sambil menggigit
pelahan-lahan. Kedua tangan saya bergerak kearah teteknya yang menantang
dan meremas-remas sambil sesekali memuntir-muntir putingnya yang cukup
panjang. Atun tetap seperti orang yang tidak sadar, matanya hanya
terpaku kelayar kaca melihat bagaimana Kay Parker menjepit pinggang
lawan mainnya sambil mengayunkan pinggulnya ke kanan kekiri.
Dengan cepat saya membuka dasternya
sampai terlepas; Atun diam saja juga saat saya memelorotkan celana
dalamnya. Sambil tetap memeluknya dari belakang, saya menggeser kakinya
agar selangkangannya lebih terbuka sehingga saya bisa mengarahkan ******
saya ke lubang memeknya. Saat kepala ****** saya mulai memasuki
memeknya yang sudah basah, Atun sedikit tersentak, tapi saya terus
menyodok kedalam sehingga ****** saya terbenam seluruhnya.
“aaaaaaaakh…..pak” , desah Atun lirih, “ennnaaaak….paaaaak”
Saya tetap menekan dan kemudian mulai menarik ****** saya. Waah…. memek Atun bagaikan menjepit ****** saya dan seperti tidak mau melepaskan ****** saya. Memek Atun ternyata sempit sekali dan ****** saya terasa bagaikan dihisap-hisap dan diremas-remas dengan denyutan-denyutan yang sungguh nikmat sekali. Saya menarik dan menekan dengan kuat secara berulang-ulang sehingga biji saya terdengar beradu dengan pantat Atun yang mulus, plak….plak….plak….. saya tetap memeluknya dari belakang dengan tangan kiri yang tetap berada di tetek sedangkan jari tangan kanan saya berada di dalam mulut Atun.
Saya tetap menekan dan kemudian mulai menarik ****** saya. Waah…. memek Atun bagaikan menjepit ****** saya dan seperti tidak mau melepaskan ****** saya. Memek Atun ternyata sempit sekali dan ****** saya terasa bagaikan dihisap-hisap dan diremas-remas dengan denyutan-denyutan yang sungguh nikmat sekali. Saya menarik dan menekan dengan kuat secara berulang-ulang sehingga biji saya terdengar beradu dengan pantat Atun yang mulus, plak….plak….plak….. saya tetap memeluknya dari belakang dengan tangan kiri yang tetap berada di tetek sedangkan jari tangan kanan saya berada di dalam mulut Atun.
Mulut Atun menghisap-hisap jari saya
bagaikan anak bayi yang telah kelaparan mendapatkan susu ibunya ,
matanya terpejam bagai orang sedang bermimpi. Badannya separuh , dari
pinggang keatas condong kedepan, membungkuk pada sandaran sofa,
sedangkan pinggangnya berusaha untuk mengimbangi gerakan maju mundur
yang saya lakukan. Bila saya menekan ****** saya untuk membenamkannya
lebih dalam kelubang memeknya, Atun segera mendorong pantatnya
kebelakang untuk menyambut gerakan saya dan kemudian secara cepat
mengayunkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan bergantian.
Aah ….. Atun, ternyata luar biasa
enaknya memek kamu. Saya benar-benar menikmati tubuh dan memek Atun.
Kami melakukan gerakan-gerakan seperti ini selama beberapa waktu, sampai
suatu saat badan Atun mengejang , kedua kaki nya juga mengejang serta
terangkat kebelakang . Memeknya meremas dan menghisap-hisap ****** saya
dengan keras dan berusaha untuk menelan ****** saya seluruhnya.
“aaaaaaaaaaaaahhhhh …..” desah Atun
panjang Akhirnya saya juga tidak tahan lagi, saya peluk badannya dan
saya tekan ****** saya kuat-kuat kedalam memek Atun. Saya pun melepaskan
cairan mani saya kedalam lubang memek Atun yang begitu hangat dan
menghisap.
“hhhhheeeeeeeeeh”
creeet…….creettt…..creet tttt Kami berdua langsung lunglai dan tertekuk
kearah sandaran sofa dengan posisi ****** saya masih ada di dalam
jepitan memek Atun. Setelah kami recover, saya buru-buru memungut
sarung, mematikan televisi dan berdua berjalan kearah belakang ; Atun
langsung berbelok kekamarnya, tapi sebelumnya ia berkata halus, ” terima
kasih yaa… pak” dan sambil tersenyum nakal ia meremas ****** saya.
Saya langsung mandi lagi untuk
membersihkan keringat yang mengalir begitu banyak, setelah itu ke
kekamar berbaring sambil memeluk isteri saya dan tertidur lelap dengan
puas. Dipagi hari saya tersentak bangun karena merasakan sepasang tangan
yang mengelus-elus ****** saya, secara refleks saya melihat jam dinding
dan melihat jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi.
” looo ..” , pikir saya ” kok isteri saya tidak bekerja hari ini”
Langsung saya mengangkat kepala melihat kebawah; lho…. ternyata bukan isteri saya yang sedang mengelus-elus ****** saya tetapi Atun yang sedang menunduk untuk mencium ****** saya, yang sudah keras dan tegang.
Langsung saya mengangkat kepala melihat kebawah; lho…. ternyata bukan isteri saya yang sedang mengelus-elus ****** saya tetapi Atun yang sedang menunduk untuk mencium ****** saya, yang sudah keras dan tegang.
“Tun….. ayo naik kesini”, kata saya
kepadanya, sambil bangun terduduk saya menarik badannya dan mulai
membuka dasternya, ternyata Atun sudah tidak memakai apa-apa dibalik
dasternya. Langsung saya balikkan badannya dan mulai mencium memeknya
yang wangi, sedangkan Atun langsung juga mengulum ****** saya dimulutnya
yang kecil; waah Atun langsung cepat belajar dari tontonan film tadi
malam rupanya.
Saya mulai menjilat-jilat memeknya dan
sesekali mengulum serta mempermainkan klentitnya dengan lidah saya, Atun
tergelinjang dengan keras dan terdengar desahannya, “hheeeh….heeeehhh”
Dari lubang memeknya mengalir cairan hangat dan langsung saja saya jilat
….. mmmh…enaknya… Setelah itu saya tarik Atun untuk jongkok di atas
badan saya, sedangkan saya tetap terlentang dan Atun mulai menurunkan
badannya dengan lubang memeknya yang sempit itu tepat kearah batang
****** saya yang sudah sangat tegang sekali.
“hhhheeehhhh”….cleeeep, batang ******
saya masuk langsung kedalam lubang memeknya dan terbenam sampai keujung
biji saya, “oooohh enak bener Tun….memek kamu” kata saya, Atun sudah
tidak menjawab lagi, dia menaikkan pantatnya dan kemudian dengan cepat
menurunkannya dan memutar-mutar pinggulnya dengan cepat sekali
berkali-kali, sambil terpejam dia mendesah-desah panjang terus menerus
karena keenakkan….. Batang ****** saya terasa mau putus karena enaknya
memek Atun, benar-benar nikmat sekali permainan dipagi hari ini;
Sesekali saya duduk untuk memeluknya dan terus meremas-remas teteknya
yang keras.
“ooooh …. Atun….ennaaaak” Atun kemudian
berhenti sebentar dan memutarkan badannya sehingga pantatnya menghadap
wajah saya, sambil terus menaik-turunkan pantatnya, memeknya tetap
menjepit batang ****** saya dengan jepitan yang keras dan
berdenyut-denyut…..Akh , akhirnya saya tidak tahan lagi, sambil memeluk
pinggangnya saya berusaha menekan batang ****** saya sedalam-dalamnya
dilubang memek Atun , badan Atun pun mengejang dan bersama-sama kita
mencapai orgasme. Pagi hari itu saya dan Atun bermain sampai jam 13:00
siang, berkali-kali dan berbagai-bagai gaya dengan tidak bosan-bosannya.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar